LEGALITAS DAN URGENSI REGULASI THIRD-PARTY FUNDING DALAM ARBITRASE KOMERSIAL INTERNASIONAL: ANALISIS KOMPARATIF GUNA MEWUJUDKAN AKSES KEADILAN BAGI PELAKU USAHA DI INDONESIA

Authors

  • Yefiza Nahri Agustia Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta

DOI:

https://doi.org/10.69957/cr.v6i04.2942

Keywords:

Arbitase Komersial Internasional, Third-Party Funding (TPF), Akses Keadilan, Pelaku Usaha, Indonesia

Abstract

Kebutuhan para pelaku usaha domestik untuk mengakses skema pendanaan eksternal melalui mekanisme inovatif Third-Party Funding (TPF) dalam sengketa arbitrase komersial internasional saat ini dirasa semakin mendesak. Namun, eksistensi pembiayaan sengketa komersial ini masih dihadapkan pada kendala ketidakpastian yuridis di Indonesia akibat adanya kekosongan regulasi yang nyata di dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Maka daripada itu, rumusan masalah atas penelitian ini adalah: 1) bagaimana validitas perjanjian pendanaan pihak ketiga ditinjau dari prinsip kebebasan berkontrak di Indonesia; dan 2) bagaimana model regulasi pendanaan pihak ketiga yang ideal bagi Indonesia berdasarkan perbandingan dengan Singapura dan Hongkong. Penelitian hukum ini dilaksanakan menggunakan metode penelitian hukum yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, serta pendekatan komparatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa validitas perjanjian kontrak TPF di Indonesia secara fundamental bersandar pada asas kebebasan berkontrak Pasal 1338 KUHPerdata, tetapi klausulnya rentan mengalami pembatalan demi hukum karena dinilai melanggar syarat objektif sebab yang halal sebagaimana dimaksud Pasal 1320 KUHPerdata akibat ketiadaan kewajiban transparansi prosedural. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan model reformulasi undang-undang arbitrase nasional yang ideal dengan mengadopsi regulasi asing pro-TPF melalui pelegalitasan institusi pendana profesional, pembatasan kriteria kualifikasi modal minimum, serta kewajiban pengungkapan identitas pendana secara ketat demi memitigasi risiko konflik kepentingan, menjamin prinsip kesetaraan posisi para pihak, menarik minat investasi, meningkatkan potensi pendapatan negara, dan mewujudkan akses keadilan yang inklusif.

References

Afif, M. (2024). Pembatalan Perjanjian Pengikatan Hutang Dikarenakan Tidak Memenuhi Syarat Sahnya Suatu Perjanjian (Studi Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 326 K/Pdt/2023). Fakultas Hukum, Universitas Islam Sumatera Utara.

Apriani, N., & others. (2022). Keabsahan Perjanjian Pinjam Meminjam Uang Melalui Platform Pinjaman Online Dihubungkan Dengan Buku Iii Kitab Undang Undang Hukum Perdata Jo Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undangundang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Tra. Fakultas Hukum Universitas Pasundan.

Arbitration Ordinance (Issue Cap. 609). (n.d.). Retrieved June 15, 2026, from https://www.elegislation.gov.hk

Ardiansyah, M. K., Marjon, D., & Mannas, Y. A. (2023). Kewenangan Hakim untuk Melakukan Intervensi dalam Penyelesaian Perkara Perjanjian Kredit Bank yang Bertentangan Dengan Nilai-Nilai Keadilan dan Asas Keseimbangan Berkontrak. UNES Law Review, 6(1), 2130–2143.

Asnawi, M. I., Fitriani, R., Tala, W. S., Tarigan, J. A. P., Daffa, T. M., & Habibi, W. (2024). Pelaksanaan Penyelesaian Sengketa Perdata Melalui Arbitrase di Negara Berkembang. Locus: Jurnal Konsep Ilmu Hukum, 4(3), 124–140.

Az, L. S. (2019). Aspek hukum perjanjian. Penebar Media Pustaka, Yogyakarta.

Baharuddin, M. Y. A. (2024). Peran hukum arbitrase dalam penyelesaian sengketa bisnis nasional: Hukum arbitrase. Jurnal Risalah Kenotariatan, 5(2), 310–320.

Bao, C. (2017). Third party funding in singapore and Hong Kong: the next chapter. Journal of International Arbitration, 34(3).

Bassey, U. (2025). Third Party Funding Under The Nigerian Arbitration And Mediation Act, 2023-A Comparative Analysis With The Legal Systems Of India, Hong Kong And Singapore. Hong Kong And Singapore (April 07, 2025).

Cartoni, B. (2018). Third Party Funding: Gambler’s Nirvana or Useful Tool? Recent Developments in Hong Kong and Singapore. SSRN Electronic Journal, 2–13.

Civil Law (Third-Party Funding) Regulations 2017 (Issue S~68/2017). (n.d.). Retrieved June 15, 2026, from https://sso.agc.gov.sg/SL/CLA1909-S68-2017

Civil Law Act 1909 (Issue Cap. 43). (n.d.). Retrieved June 15, 2026, from https://sso.agc.gov.sg

Dannen, C. (2017). Introducing Ethereum and Solidity: Foundations of Cryptocurrency and Blockchain Programming for Beginners. Apress.

Dewi, N. W. L., Wibawa, I. G. K. A., & Antara, I. W. (2021). Pengaturan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional berdasarkan Konvensi New York 1958 di Indonesia. Majalah Ilmiah Universitas Tabanan, 18(1), 121–127.

Du, T. (2019). Research on Conflicts of Interest Arising from Third-Party Funding In International Investment Arbitration. Advances in Social Science, Education and Humanities Research, 281(SSCHD 2018), 422–425.

Eken, C. (2021). A detailed comparison of third-party funding regulations in Hong Kong and Singapore. Asia Pacific Law Review, 29(1), 25–46.

Eken, C. (2024). Third-Party Funding in Investment Arbitration. A New Player in the System.

Eweputanna, I. M. A., Nwodo, F., & Amucheazi, C. (2025). Third Party Funding Issues in the Arbitration and Mediation Act Against Commercial Prospects in Nigeria. Business Law Review, 46(2).

Fadhil. (2023). Examining the Potential and Difficulties of Third-Party Funding in Arbitration under Jordanian Law. 99–105.

Fadhil, O. S. (2025). Examining the potential and difficulties of third-party funding in arbitration under Jordanian law. Al-Biruni Journal of Humanities and Social Sciences, 3(11), 1–10.

Gaukrodger, D., & Gordon, K. (2012). Investor-state dispute settlement: a scoping paper for the investment policy community.

Gumanti, R. (2012). Syarat Sahnya Perjanjian (Ditinjau dari KUHPerdata). Jurnal Pelangi Ilmu, 5(01).

Hanotiau, B. (2025). The New SIAC Arbitration Rules 2025: Modernity, Efficiency, Transparency. ASA Bulletin, 43(1).

Hardjomuljadi, S., & others. (2026). Pertanggungjawaban Etik Arbiter dan Implikasinya Terhadap Kekuatan Putusan Arbitrase di Indonesia. Journal of Syntax Literate, 11(1).

Hubai, A. (2017). Third Party Funding in Singapore: Recent Legal Updates in Arbitration Market. 21–36.

Jayanti, H. D. (2025). Tren Third Party Funding dalam Arbitrase Dorong Praktik Lebih Terbuka dan Efisien. Hukumonline.Com.

Jinoto, D. I. (2025). Pembatasan Kebebasan Berkontrak dalam Perjanjian Fintech Lending Berdasarkan Pasal 1320 KUHPerdata. Bhirawa Law Journal, 6(2), 150–160.

Joesoef, I. E., SH, S. N., & Kn, M. (2022). Hukum Perjanjian: Asas, Teori, & Praktik. Citra Aditya Bakti.

Jun, J. W. (2020). Third-Party Funding of Arbitration: Focusing on Recent Legislations in Hong Kong and Singapore. J. Arb. Stud., 30, 137.

Kadarisman, A. W. (2019). Disclosure of Third-Party Funding Arrangements and the Existence of Third-Party Funders in International Investment Arbitration. Indonesian Journal of International Law, 17(1), 89–100.

Kandriana, M., & others. (2025). Syarat Subjektif dan Objektif Perjanjian Jual Beli: Relevansi Pasal 1320 KUHPerdata dalam Praktik Modern. Unes Law Review, 8(1).

Kanris, J., & Amalia, P. (2020). Model Regulation of Third-Party Funding in Indonesia: A Comparative Study. Transnational Business Law Journal, 1(1), 37–57.

KOMALA, F. (2020). Mandatory Disclosure of Third-Party Funding in International Arbitration-A Balance of Confidentiality and Ensuring Arbitrator’s Impartiality and Independence. Universitas Gadjah Mada.

Legal Profession (Professional Conduct) Rules 2015. (n.d.). Retrieved June 15, 2026, from https://sso.agc.gov.sg/SL/LPA1966-S706-2015

Lespérance, A., MacGrath, D., & Solas, G. M. (2025). Claims, third-party funding and SDGs 5 (gender) and 16 (justice and governance). In Research Handbook on Investment Law and Sustainable Development (pp. 266–280). Edward Elgar Publishing.

Limiardo, M., Reinhart, F., & Karyn, K. O. (2024). Ketidaksesuaian Komitmen Indonesia Dalam Perjanjian Internasional Untuk Mengakui Putusan Arbitrase Asing. Jurnal Kewarganegaraan, 8(1), 676–681.

Makruf, S., Astarudin, T., & others. (2025). Perikatan dalam Hukum Perdata Indonesia: Analisis terhadap Perikatan yang Timbul Karena Persetujuan dan Undang-Undang. JIMU: Jurnal Ilmiah Multidisipliner, 4(01), 1757–1773.

Marquais, O., & Grec, A. (2020). Do’s and dont’s of regulating Third-Party litigation funding: Singapore vs. France. Asian International Arbitration Journal, 16(1).

Marzuki, P. M. (2021). Penelitian Hukum (Edisi Revisi). Kencana.

Neelakantan, V., & Giorgadze, V. (2023). Emergency Arbitration Procedures under the Rules of the Singapore International Arbitration Centre (SIAC). BCDR International Arbitration Review, 10(2).

Nieuwveld, L. B., & Sahani, V. S. (2017). Third-Party Funding in International Arbitration. Kluwer Law International.

Ningtyas, G. A. (2014). Penerapan Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase Dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Terhadap Penyelesaian Sengketa Perdagangan Online (E-commerce) Melalui Arbitrase Online. Brawijaya University.

Notarius. (2020). Akibat Hukum Tidak Dipenuhinya Syarat Objektif dalam Perjanjian Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Notarius, 13(2).

Priyono, E. A. (2018). Aspek Keadilan dalam Kontrak Bisnis di Indonesia (Kajian pada Perjanjian Waralaba). Law Reform, 14(1), 15–28.

Pulungan, R. A. R., & ALW, L. T. (2022). Mekanisme Pelaksanaan Prinsip Checks And Balances Antara Lembaga Legislatif Dan Eksekutif Dalam Pembentukan Undang-Undang Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia. Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia, 4(2), 280–293.

Rahim, A. (2022). Dasar-Dasar Hukum Perjanjian: Perspektif Teori dan Praktik. Humanities Genius.

Republik Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Rogers, C., & others. (2025). Potential conflicts of interest between arbitrators and funders. In Handbook on third-party funding in international arbitration (pp. 67–88). (seleziona...).

Sari, R., & Irianti, R. A. D. (2019). Penyelesaian Klaim Perjanjian Asuransi Secara Ex Gratia ditinjau dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian dan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Pamulang Law Review, 2(1), 47–54.

Secomb, M., Tan, P., & Wingfield, T. (2016). Third Party Funding for Arbitration: An Opportunity for Singapore to Lead The Way in Regulation. Asian Disp. Rev., 18, 182.

Syamsiah, D., Bao, R. M. B., & Yuliana, N. F. (2023). Dasar Penerapan Asas Pacta Sunt Servanda Dalam Perjanjian. Jurnal Hukum Das Sollen, 9(2), 841–848.

Syamsudin, M. (2014). Keadilan Prosedural dan Substantif dalam Putusan Sengketa Tanah Magersari. Jurnal Yudisial, 7(1), 18–33.

Tampubolon, W. S. (2019). Peranan Seorang Arbiter Dalam Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase. Jurnal Ilmiah Advokasi, 7(1), 21–30.

Temenggung, C. T. A., & Dewi, Y. K. (2020). Pendanaan Pihak Ketiga (Third Party Funding) Dalam Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase dan Kemungkinan Penerapannya di Indonesia. Jurnal Hukum & Pembangunan, 50(2), 7.

TITAN, J. C. (2025). The Efficiency of Third-Party Funding in the Resolution of International Disputes through Arbitration in the Southeast Asia Region. International Journal of Law and Politics Studies, 7(8), 27–39.

Downloads

Published

2026-07-22

How to Cite

Agustia, Y. N. (2026). LEGALITAS DAN URGENSI REGULASI THIRD-PARTY FUNDING DALAM ARBITRASE KOMERSIAL INTERNASIONAL: ANALISIS KOMPARATIF GUNA MEWUJUDKAN AKSES KEADILAN BAGI PELAKU USAHA DI INDONESIA. COURT REVIEW: Jurnal Penelitian Hukum (e-ISSN: 2776-1916), 6(04), 62–80. https://doi.org/10.69957/cr.v6i04.2942

Issue

Section

ILMU HUKUM